RI sulit tumbuh 8% akibat kontribusi daerah lemah
Keuangan | admin | February 3, 2010 at 18:18JAKARTA (Bisnis.com): Indonesia dinilai masih akan sulit mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7%-8% dalam 4 tahun ke depan karena daerah belum bisa memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi.
Guru Besar FE Universitas Hasanuddin Hamid Paddu mengatakan desentralisasi fiskal yang terjadi selama ini ternyata belum diikuti dengan desentralisasi ekonomi. Menurut dia, desentralisasi ekonomi hanya terjadi di wilayah-wilayah tertentu seperti Jabodetabek.
“Desentralisasi fiskal sebenarnya bisa mendorong pemerintah daerah mendorong pembangunan ekonomi. Namun ini tidak terjadi karena kecilnya ruang fiskal yang dialokasikan untuk belanja modal,” katanya dalam rapat dengar pendapat umum dengan Badan Anggaran DPR, hari ini.
Dia menuturkan kecenderungan yang terjadi adalah daerah di seluruh Indonesia lebih memilih menerapkan struktur gemuk yang mengakibatkan sebagian besar alokasi anggaran APBD terserap untuk belanja pegawai dan belanja rutin.
“Struktur gemuk membutuhkan PNS yang banyak sehingga untuk gaji PNS menelan lebih 50% dari APBD. Kalau ditambah biaya rutin lainnya akan membebani sekitar 70% APBD,” tuturnya.
Padahal, lanjutnya, untuk membangun perekonomian daerah dibutuhkan alokasi belanja modal yang besar yaitu sekitar 70%-80% dari total APBD yang ada. “Ke depan, kuota PNS harus dikurangi karena sudah cukup rasionya, agar keuangan daerah tidak terserap habis untuk belanja tidak langsung,” ujarnya.
Dia menuturkan selama persoalan salah alokasi anggaran itu tidak diperbaiki, akan menyulitkan Indonesia untuk bisa tumbuh mencapai 7%-8%. “Perlu ada konsensus soal belanja ini antara pemda dan pemerintah pusat. Karena kalau seenaknya uang dipakai, prioritas nasional tidak akan tercapai. Jadi lebih baik dipatok,” tegasnya.(yn)
Source: Bisnis.com – keuangan


Tweet This
Digg This
Save to delicious
Stumble it