KRISIS KEDELAI: KPPU Diminta Buktikan Tuduhan Adanya Kartel

JAKARTA: Komisi Pengawas Persaingan Usaha diminta bisa membuktikan
tuduhan praktik kartel kedelai melalui pengkajian secara komprehemsif agar
tidak merugikan salah satu pihak.
Sutaryo, kepala Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia Jakarta Selatan,
mengatakan ada sekitar 10 perusahaan importir kedelai dengan persaingan
cukup tajam saat ini.
“Ada satu importir tumbang akibat tidak mampu bersaing dalam 1 tahun
terakhir. Maka dari itu, kami tidak setuju dengan asumsi KPPU terkait
adanya praktik kartel kedelai,” katanya, di Jakarta, Senin (30/7/2012).
Dia menyebutkan dari sekitar 10 importir kedelai eksistint, empat di
antaranya merupakan perusahaan skala besar, sedangkan sisanya tergolong
kecil.
Sutaryo memerkirakan volume impor perusahaan skala kecil berkisar antara
60.000 ton per kapal.
“Kalau ada kartel, importir skala kecil ini akan sangat diuntungkan.
Sementara itu, persaingan di pasar begitu tajam,” paparnya.
Sutaryo tetap berkukuh kenaikan harga kedelai di pasar merupakan imbas
dari gejolak yang terjadi di pasar internasional.
Menurutnya, sistem perdagangan bebas yang berlaku tentunya akan membuat
harga rentan bergerak. “Selain itu, kedelai dalam negeri pun tidak mampu memengaruhi harga di
pasar.”
Dia menegaskan salah satu cara untuk meredam gejolak harga kedelai ialah
dengan melakukan intervensi barang.
“Misalnya Bulog menguasai barang untuk kebutuhan 3 bulan mendatang.
Artinya, Bulog harus memiliki kedelai dalam jumlah banyak,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, kedelai impor masih menjadi
kontributor terbesar untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dari 2,6 juta ton
kebutuhan kedelai secara nasional, pasokan domestik hanya mencapai 800.000
ton. (if)
Source: bisnis online
Berita Lain:- BEA KELUAR CPO: Struktur tak akan diubah
- TKI: Suami isteri satu majikan ideal
- RUPIAH MELEMAH, Sektor Pariwisata Justru Diuntungkan
- Mendag Setujui Usulan BMAD Baja Canai Dingin
- BANK DUNIA prediksi arus modal ke negara berkembang bakal tumbuh



