Suka Menggunjing Sama dengan Puasa Kambing
LAMONGAN, KOMPAS.com – Ada beberapa tingkatan puasa, mulai dari puasa umum (shaumul umum), puasa khusus (shaumul khusus), dan puasa sangat lebih khusus lagi (shaumul khususil khusus). Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran, Lamongan, KH Abdul Ghafur, puasanya orang zaman sekarang lebih banyak pada tingkatan shaumul umum.
Meskipun secara visual berpuasa di siang hari namun pada malam harinya masih ada yang suka tawuran, bergunjing, atau melontarkan makian-makaian. Ia menganalogikan puasa seperti itu tidak ada bedanya dengan puasanya kambing yang diikat di lapangan tidak diberi makan minum seharian penuh.
Shaumul umum merupakan puasa yang dilakkan orang pada umumnya yakni menahan nafsu perut dari makan dan minum serta menahan nasfu kemaluan dari syahwat. Syaumul khusus dilakukan orang tertentu dengan menahan pendengaran peglihatan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.
Shaumul khususil khusus yakni puasanya hati dari keinginan dan pikiran terhadap hal terkait duniawi, serta menjaganya secara totalitas dan sungguh-sungguh dari masuknya unsur-unsur yang bukan karena Allah. Puasa seperti ini dianggap berbuka atau batal ketika muncul pikiran selain Allah dan tujuan selain hari akhir serta masih ada pikiran dunia.
"Dunia harusnya dimaksudkan bekal hidup di akhirat bukan dilandasi kepentingan duniawi semata. Puasa tingkat ini dilakukan para nabi, ash shidiqin ( orang yang benar-benar shidiq dan bisa dipercaya) , dan al muqarrabbin ( orang-orang yang amat dekat dengan Allah SWT (Al-muqarrabiin)," papar Ghafur dalam peringatan Nuzulul Quran di Masjid Agung Lamongan, Rabu (8/8/2012).
Agar tidak menjalani puasanya kambing, masyarakat khususnya umat Islam bisa meningkatkan puasanya menjadi shaumul khusus dengan menjaga inderanya dan tingkah lakunya agar tidak sama dengan perilaku binatang.
Menurut Ghafur, ruh dan esensi puasa terletak pada fungsinya sebagai pengecilan potensi yang merupakan sarana setan untuk merealisasikan kejahatan.
Orang yang berpuasa semestyinya menyantap makanan ala kadarnya, bahkan, seharusnya sesuai dengan adab shaum, dan tidak banyak tidur di siang hari. Sehingga terasa adanya lapar dan haus, serta lemahnya tenaga, nafsu dan syahwat diharapkan bisa mensucikan hati dan jiwa. Kondisi itu terus dijaga setiap malamnya, maka akan membuat ringan untuk bertahajud dan berdzikir agar setan tak akan mampu merambat masuk ke dalam hati.
Source: kompas regional
Berita Lain:- Empat Rumah di Palangkaraya Terbakar
- Puskesmas di Kaltim Ditargetkan Siap 24 Jam, Tahun Ini
- Geledah Rumah Ayong, Polisi Temukan Buku Jihad
- Korban Longsor Cibogo Bertahan di SDN Cipayung
- Eksekusi Ruko Ricuh Gara-gara Salah Objek



